Eksistensi NU Dalam Perspektif Semangat Keagamaan Dan Kebangsaan

Kajian Semangat Keagamaan dan Kebangsaan dalam Organisasi NU

  • Habib Bawafi

Abstract

 

Nahdlatul Ulama’ (NU) adalah jam’iyah Diniyah/organisasi sosial keagamaan yang dilahirkan pada tanggal 16 Rajab 1344/31 Januari 1926. NU didirikan oleh para Ulama’ pesantren yang bertujuan untuk memelihara, mengamalkan, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan juga menurut anggaran dasar dan rumah tangga NU berazaz Pancasila dan UUD 1945. Faham Ahlussunnah wal Jama’ah ini di bidang :
a. Aqidah Islamiyah mengikuti faham atau aliran yang dirumuskan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
b. Bidang Fiqih mengikuti salah satu madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).
c. Dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Al-Junaidi al baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghozali
Sebagai organisasi keagamaan Islam (jam’iyah Diniyah Islamiyah), NU merupakan bagian yang tak terpisahkan dari umat Islam Indonesia yang memegang teguh prinsip persaudaraan (ukhuwah) dan tasamuh (toleransi). NU memandang Kesatuan Republik Indonesia sebagai hasil kesepakatan seluruh bangsa Indonesia termasuk warga Nahdliyin. Dengan demikian bangsa ini harus dipertahankan kelestariannya karena merupakan hasil yang sudah final.
Sebagai organisasi sosial keagamaan yang tidak dapat terpisahkan dari bangsa Indonesia. NU senantiasa menyatukan dengan perjuangan Nasional. Keberadaan NU senantiasa menyatukan diri dengan perjuangan bangsa Indonesia dengan selalu aktif membangun bangsa yang menuju masyarakat yang adil dan makmur dan diridhoi oleh Allah Swt.
Dalam hal kebangsaan NU selalu terdepan untuk mempertahankan NKRI dan Pancasila, dalam bentuk keterlibatan Nahdlatul Ulama’ pada kebangsaan Indonesia. Serta pandangan Nahdlatul Ulama’ dalam mempertahankan Dasar Negara Pancasila. Degan demikian maka Nahdlatul Ulama’ merupakan organisasi sosial keagamaan yang eksis dalam membangun semangat keagamaan dan kebangsaan.

Published
2020-09-24